03 January 2009

Ikhwan Berlebihan (Israf) dalam Berpolitik?

Ikhwanul Muslimun sebagai gerakan massa keagamaan dianggap telah melampaui batas wilayah kerjanya; dakwah. Masuknya mereka ke dalam wilayah politik akan membuat dakwah mereka terbengkalai dan tidak murni lagi. Bahkan, dakwah akan tercemari getah-getah politik yang biasa mengotori pelaku politik. Pandangan seperti itu tidak lain berangkat dari tashawur yang juziyah (parsial) tentang taalimul Islam (muatan ajaran Islam). Pemilahan Islam dan politik atau aspek lainnya tidak dapat dibenarkan menurut nash maupun sejarah. Orang-orang seperti itu memiliki pendahulu dan kader. Dalam pandangan mereka Islam adalah Islam dan negara adalah negara. Di antara keduanya tidak ada sangkut paut. Sesungguhnya pandangan itu bukan dari Islam, melainkan dari Nashrani yang memiliki doktrin, Berikan kepada Tuhan hak Tuhan dan berikan kepada kaisar hak kaisar.
Anehnya, pemikiran asing itu ditujukan kepada Islam. Lebih aneh lagi, umat Islam menerimanya tanpa mengoreksi kebenarannya. Bahkan, menghina pandangan ulama dulu dengan anggapan mereka jumud (statis). Mereka merasa sebagai mujaddid (pembaru), padahal hanya ingin memperbarui Islam dengan sesuatu yang bukan dari Islam dan tidak pernah dikenal. Mereka ingin mengubah segalanya. Jika mampu, menukar bumi menjadi langit dan malam menjadi siang. Jika demikian, mereka labih layak disebut mubaddid (perusak) agama.
Ikhwan tidak memahami Islam hanya aktual di pesantren, tetapi hampa di rumah; aktual di masjid, hampa di istana; aktual di ceramah dan seminar, tetapi hampa dalam keseharian karena generasi terbaik imat ini tidak memahami dan menjalani Islam seperti itu. Islam adalah Islamnya Alquran dan Assunnah dengan segala hal yang terkandung di dalamnya tanpa pemisahan. Apakah generasi terbaik itu layak dianggap menjalankan politisasi agama?
Tidak masalah istilah apa pun yang disematkan orang terhadap agama Allah Swt ini. Intinya, Islam memiliki syariat yang universal meliputi seluruh aspek kehidupan, termasuk kebutuhan untuk mengatur dan membangun daulah (negara) dan memiliki khalifah. Anehnya, mereka tidak mempermasalahkan berdirinya nebara berdasarkan ieologi selain Islam seperti negara komunis, sosialis, kapitalis, bahkan negara Katolik. Mereka memberi kebebasan yang amat luas dengan alasan demokrasi, tetapi mereka sibuk mengerahkan segenap kemampuan dan senjata untuk membendung berdirinya Daulah Islamiyah.
Kepada merekalah Imam Syahid Hasan al Banna memberikan seruan, Wahai kaum kami, sungguh ketika kami menyeru kalian, ada Alquran di tangan kanan kami dan Assunnah di tangan kiri kami serta jejak kaum salaf yang soleh dari putera-putera terbaik umat ini sebagai panutan kami. Jika orang yang menyeru kepada itu semua kalian namakan politikus, alhamdulillah kami adalah politikus yang ulung. Jika kalian ingin menyebut itu sebagai politik, silakan memberi nama apa saja yang kalian suka. Nama sama sekali tidak penting bagi kami selama muatan dan tujuannya jelas. Wahai kaum kami, janganlah kata-kata menghalangi kalian dari melihat kebenaran. Jangan pula nama menghijabkan kalian dari tujuan. Jangan sampai kemasan (bungkus) menghijab kalian dari muatannya yang hakiki. Jangan sampai itu semua terjadi. Sesungguhnya dalam Islam ada politik, tetapi politik yang padanya terletak kebahagiaan dunia dan akhirat. Itulah politik kami. Kami tidak menginginkan pengganti apa pun selain itu. Pimpinlah diri kalian untuk itu dan ajaklah orang lai melakukan hal yang sama, niscaya kalian akan memperoleh kehormatan di akhirat. Suatu saat kalian pasti akan tahu tentang kebenaran kabar ini.57)

a. Tuduhan Saudara Seperjuangan
Sebagai duat, ada yang ikut menuding Ikhwan juga dari sisi ini dengan perspektif lain. Mereka menganggap Ikhwan melupakan dakwah tauhid serta melalaikan masalah bidah dan khurafat yang ada di masyarakat. Itu semua terjadi lantaran Ikhwan dianggap lebih mementingkan politik.58) Penilaian-penilaian seperti itu sah-sah saja, apalagi secara kebetulan itulah yang mampu mereka lihat dan pahami secara kasat mata dari keseharian aktivis Ikhwan. Namun, melakukan penelitian dan pemeriksaan yang seksama adalah sebuah keharusan ilmiah bagi mereka agar memiliki hujjah yang argumemtatif dan bukan hawa nafsu dan emosi. Bagi yang mau melihat, lalu merenungi, dan ikhlas dalam itu semua, mereka akan melihat bahwa anggapan Ikhwan terlalu bermain politik adalah keliru. Banyak kenyataan yang tidak mendukung tudingan itu. Di antaranya, tengoklah semua perpustakaan Islam dunia di ujung Barat dan Timur, kita akan melihat karya-karya al Banna dan pengikutnya yang tidak terhitung jumlahnya dan menduduki tempat tersendiri. Bahkan, tidak jarang menjadi best-seller. Bukalah karya-karya itu, apakah isinya selalu kajian politik? Tidak, itu hanya sebagian kecil saja, bahkan amat kecil. Berikut adalah sebagian karya tokoh Ikhwanul Muslimun yang telah menyebar di dunia.

Kajian Ilmu-Ilmu Alquran dan Tafsirnya:
1. Mabhats fi Ulumil Quran (Manna Khalil al Qattan)
2. Kaifa Nataamal Maal Quran (Yusuf al Qaradhawy
3. Ash Shabru fil Quran (Yusuf al Qaradhawy
4. Dialog dengan Alquran (Muhammad al Ghazaly)
5. Alquran dan akal (Yusuf al Qaradhawy
6. Marjaiyatul Ulya lil Islam al Quran was Sunnah (Yusuf al Qaradhawy)
7. Fi Zhilalil Quran (Sayyid Qutb)
8. Taswirul Fanni fil Quran (Sayyid Qutb)
9. Fi Zhilalis Surah at Taubah (Abdullah Azzam)

Kajian Hukum Islam:
1. Tasyi al Jinai fil Islam (Abdul Qadir Audah)
2. Al Fatawa (Abdul Halim Mahmud)
3. Fiqhus Sunnah (Sayyid Sabiq)
4. Fiqhun Nisa (Abdul Karim Zaidan)
5. Fiqhuz Zakat (Yusuf al Qaradhawy
6. Fiqhus Shiyam (Yusuf al Qaradhawy
7. Al Halal wal Haram fil Islam (Yusuf al Qaradhawy)
8. Min Fiqhid Daulah (Yusuf al Qaradhawy)
9. Fatwa-fatwa Kentemporer (3 jilid) (Yusuf
al Qaradhawy)
10. Fiqh Aulawiyat (Yusuf al Qaradhawy)

Kajian Akidah Islam:
1. Aqidah Islam (Sayyid Sabiq)
2. AlAqaid (Hasan al Banna)
3. Tauhidullah (Yusuf al Qaradhawy)
4. Al Wala (Said Hawwa)
5. Trilogi Allah, Rasul al Islam (Said Hawwa)

Kajian Sirah Nabi dan Sahabat:
1. Fiqhus Sirah (Muhammad al Ghazaly)
2. Sirah Nabawiyah (Said Ramadhan al Buthy)
3. Manhaj Haraki (Munir al Ghadban)

Kajian Hadist Nabawi:
1. Kaifa Nataamal maas Sunnah (Yusuf al Qaradhawy)
2. Madkhal lid Dirasah as Sunnah an Nabawiyah (Yusuf al Qaradhawy
3. As Sunnah an Nabawiyah Mashdaran lil Marifah wal Hadharah (Yusuf al Qaradhawy)
4. Marjaiyatul Ulya lil Islam al Quran was Sunnah (Yusuf al Qaradhawy)
5. Al Muntaqa fit Tarhib wat Targhib (Yusuf al Qaradhawy)
6. As Sunnah an Nabawiyah baina Ahlil Fiqh wa Ahlil Hadist (Muhammad al Ghazaly)
7. As Sunnah an Nabawiyah wa Makanatuha fi Tasyriil Islam (Mustafa as
Sibai)

Kajian Pembinaan Akhlak dan Ruhani:
1. Akhlak Muslim (Muhammad al Ghazaly)
2. Sabar (Yusuf al Qaradhawy)
3. Tawakal (Yusuf al Qaradhawy)
4. Niat dan Ikhlas (Yusuf al Qaradhawy)
5. Tarbiyah Ruhiyah (Abdullah Nasih Ulwan)
6. Tarbiyah Akhlaqiyah (Abdullah Nasih Ulwan)
7. Tarbiyatul Aulad (Abdullah Nasih Ulwan)
8. Tarbiyatunar Ruhiyah (Said Hawwa)
9. Tazqiyatun Nafs (Said Hawwa)

Kajian Dakwah dan Jihad:
1. Fiqhud Dakwah (Amin Jumah Abdul Aziz)
2. Dakwah Fardiyah (Abdul Halim Hamid)
3. Tarbiyah Jihadiyah (Abdullah Azzam)
4. Risalah Jihad (Hasan al Banna)
5. Risalah Dawatuna (Hasan al Banna)
6. Dakwah dan Hati (Abbas as sisi)
7. Dakwah dan Tarbiyah (Abbas as sisi)
8. Ikhwanul Muslimin Ahdats Shanaat Tarikh (Mahmud Abdul Halim)

Kajian Tsaqafah Islamiyah:
1. Keprihatinan Muslim Modern (Yusuf al Qaradhawy)
2. Anatomi Masyarakat Islam (Yusuf al Qaradhawy)
3. Fiqh Tajdid wash
Shahwah Islamiyah (Yusuf al Qaradhawy)
4. Ghairul Muslim fil Islam (Yusuf al Qaradhawy)
5. Maalim fit Thariq (Sayyid Qutb)
6. Aladalah al Ijtimaiyah (Sayyid Qutb)
7. Al Mustaqbal li hadzad Din (Sayyid Qutb)
8. Jahiliyah Abad Duapuluh (Muhammad Qutb)
9. Tafsir Islam atas Realitas (Muhammad Qutb)
Ikhwan pun memiliki beberapa ulama hadist terkemuka, yaitu Syaikh Muhibbun al Khathib, Abdul Fattah Abu Guddah, dan Yusuf al Qaradhawy. Bahkan, Syaikh al Albany dahulunya aktif dalam halaqah Ikhwan. Masih banyak karya tokoh-tokoh Ikhwan yang belum disebutkan dan bukan di sini tempatnya. Sebagaimana yang kita lihat, benarkah perhatian Ikhwan hanya tertuju pada masalah politik seperti yang dituduhkan?
Dari segi aktivitas pun, Ikhwan bergerak ke sektor lain yang nyata. Pendidikan, bantuan sosial, kajian ilmu, jihad, olahraga, dan amal Islami lainnya. Kenyataan itu amat kentara dan tidak dapat dibantah! Adapun terjunnya Ikhwan ke wilayah politik bukanlah tanpa sebab. Pertama, Ikhwan tidak pernah meng-anaktirikan satu pun ajaran Islam. Semua mendapat perhatian yang seimbang, termasuk politik.
Kedua, Ikhwan lahir di tengah masyarakat muslim yang memahami Islam secara parsial. Lalu mereka membuat kelompok-kelompok pergerakan dengan agenda perbaikan masing-masing. Ada yang bergerak dalam memperbaiki akhlak pemuda, ada yang bergerak dalam memberantas bidah dan syirik atau ada yang bergerak dalam memberantas munkar. Mereka saling menuding dan merasa paling benar dalam manhaj-nya. Itu semua tidak memuaskan Hasan al Banna yang memahami Islam tidak dalam serpihan seperti itu. Menurutnya Islam itu adalah Nizham (tatanan) sempurna dan lengkap termasuk politik- yang kurang mendapat perhatian dari aktivis Islam saat itu.
Ketiga, Ikhwan memahami benar prioritas amal dakwah sehingga kadar perhatian terhadap masalah pun berbeda sesuai prioritasnya. Itu pun dapat berubah seiring dengan perubahan prioritas. Betapa banyak pengikut Ikhwan di berbagai negeri justru apolitis (tidak berpolitik) di dalam negeri mereka karena keadaan menuntut mereka berkiprah di bidang lain.59) Namun, tidak perlu diingkari bahwa Ikhwan berpolitik. Mungkin mereka menilai menghancurkan penguasa tiran lebih prioritas daripada meributkan kain atau celana panjang yang melebihi mata kaki (isbal), melindungi kaum muslimin dari kaum kafir lebih prioritas daripada meributkan cadar yang masih ikhtilaf, mempersoalkan makna istiwa (bersemayam), atau menggosok gigi pakai siwak. Abdullah bin Umar Ra pernah ditanya seseorang, Menurut anda, apa hukumnya membunuh nyamuk? Ibnu Umar Ra menjawab dengan marah, Anda bertanya tentang itu, sedangkan di negeri anda cucu Nabi dipenggal kepalanya!
Itulah Fiqih Ibnu Umar Ra yang mengerti prioritas amal dan tidak suka meributkan hal-hal yang tidak aktual. Memang demikianlah paradigma dakwah dan fiqh Salafus Shalih. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah ulama yang sangat bersemangat memberantas bidah dan khurafat pada masanya yang memang amat merajalela. Namun, ketika pasukan Tar-Tar menyerang Damaskus, beliau langsung memimpin perang dengan pemahaman sebagai prioritas. Beliau salah satu model alim yang beramal, tahu prioritas dan mengerti menempatkan masalah tanpa menyudutkan pihak lain.
b. Apakah Politik Selalu Buruk?
Itulah yang harus dimengerti kaum muslimin secara benar. Persepsi yang keliru terhadap politik tentu melahirkan sikap-sikap yang keliru pula. Secara teoritis, siyasah merupakan ilmu yang penting dan memiliki kedudukan tersendiri. Secara praktis, politik merupakan aktivitas yang mulia dan bermanfaat karena berhubungan dengan peng-organisasian urusan makhluk dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Imam Ibnul Qayyim mengutip perkataan Imam Abu Wafa Ibnu Aqil al Hanbali bahwah siyasah merupakan tindakan atau perbuatan yang dengannya seseorang lebih dekat dengan kebaikan dan lebih jauh dari kerusakan selama politik tersebut tidak bertentangan dengan syara. Ibnul Qayyim mengatakan, Sesungguhnya, politik yang adil tidak akan bertentangan dengan syara, bahkan sesuai dengan ajarannya dan merupakan bagian darinya. Dalam hal itu, kami menyebutnya dengan siyasah karena mengikuti istilah anda. Padahal, sebenarnya dia adalah keadilan Allah dan Rasul-Nya. Para ulama kita terdahulu telah memaparkan nilai dan keutamaan politik sehingga Imam al Ghazaly pernah berkata, Dunia merupakan ladang akhirat. Agama tidak akan menjadi sempurna kecuali dengan dunia. Pemimpin dan agama merupakan anak kembar. Agama merupakan dasar dan penguasa merupakan penjaga. Sesuatu yang tidak memiliki dasar tentu akan runtuh dan sesuatu yang tidak memiliki penjaga tentu akan hilang.60)
Hal yang perlu diingat adalah dulu tidak ada pemisahan secara fungsional antara ulama dan penguasa. Para penguasa masa lalu khulafaur Rasyidin- adalah ulama dan tokh umat sekaligus negarawan andal pada masanya. Utsman bin Afan Ra pernah berkata, Kezaliman yang tidak dapat dilenyapkan Alquran akan Allah Swt lenyapkan melalui tangan penguasa. Rasulullah Saw adalah negarawan- seperti diakui banyak orentalis- disamping pemimpin agama, muballigh, pengajar dan hakim. Beliau adalah panutan Khulafaur Rasyidin. Namun saat ini, tidak sedikit umat Islam yang alergi politik dan segala yang berhubungan dengannya. Hal itu menimpa kalangan awam hingga orang alimnya, bahkan ada beberapa jamaah Islam yang amat menjauhkan politik dari manhaj gerakan mereka. Alasan mereka, politik dapat mengotori hati dan pikiran. Ada pula yang beralasan dakwah politik bukanlah dakwah salafush shalih dan kami bukan dai-dai politik. Mereka menyitir ucapan Ibnu Taimiyah, Saya bukan politikus walau saya mengkaji masalah-masalah politik.
Hal itu mungkin terjadi karena hasil pantauan mereka terhadap politik selama ini selalu menunjukkan gejala yang buruk. Orang-orang yang terlibat di dalamnya dapat bergeser orientasi politiknya menjadi politik imperialis, berkhianat dan semena-mena. Apalagi, setelah panggung politik dunia dirasuki politik Machiavelli yang menghalalkan segala cara, semakin menjadi-jadilah kebencian mereka terhadap politik. Mereka begitu akrab dengan ucapan Muhammad Abduh, Aku berlindung kepada Allah dari masalah politik, dari orang yang menekuni politik dan terlibat urusan politik serta dari orang yang mengatur politik dan dari orang yang diatur politik. 61)
Sebaiknya, kaum muslimin memilah secara shafi (jernih) antara politik syari dan Machiavelli sekaligus memilah politisi bersih dari politisi kotor. Jangan sampai ada oknum-oknum politisi atau doktrin politik yang semena-mena membuat pandangan jernih kita tertutup, lalu membuat kesimpulan keliru secara umum tentang politik. La haula wala quwwata illa billah.
---------------------------------------
[57] Hasan al Banna, Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin Jilid I, hlm 75.
[58] As Sunnah, edisi 05/Th. III/1419-1998, hlm. 28.
[59] Menurut Mamun al Hudaibi, Inti masalah yang dihadapi tiap negara berbeda antara satu dan lainnya. Oleh karena itu, cara atau metode yang digunakan pun berbeda untuk tiap-tiap negara. Jadi, tidak dapat dikatakan Ikhwan meninggalkan jihad, misalnya hanya karena mereka menggunakan cara lain di Mesir yang betul-betul berbeda dengan Palestina. (Ishlah edisi 67/Th. IV, 1996, hlm 23 kol 3). Imam Ibnul Qayim dalam Madarijus Salikin menegaskan bahwa ibadah yang paling utama adalah yang sesuai dengan urgensi dan prioritasnya. Jika dalam negerinya deserang kekuatan kafir, jihad adalah ibadah paling utama. Jika kemiskinan melanda, mengentaskan kemiskinan adalah ibadah yang paling utama. Jika kebodohan merajalela, menuntut ilmu adalah ibadah yang paling utama. Jika banyak kekacauan karena tidak ditegakkannya hukum Islam, menegakkan syariat Islam secara benar adalah ibadah yang paling utama.
[60] Yusuf al Qaradhawy, Fatwa-Fatwa Kontemporer, jilid II hlm 913.

No comments: