02 December 2008

Bakrie & I

Bukan Bakrie namanya kalau tidak bisa membuat kejutan

Bakrie & Brothers adalah sebuah perusahaan keluarga yang dimulai dari generasi pertama H. Ahmad Bakrie di era awal kemerdekaan Indonesia, pengusaha lain yang memulai pada waktu yang sama diantaranya adalah Haji Kalla di Makassar. Bakrie memulai usahanya di bidang perdagangan komoditas dan saat ini Bakrie memiliki usaha di hampir seluruh sektor industri di Indonesia, seperti pipa baja, konstruksi, perumahan, telekomunikasi, perkebunan dan media.



Logo Bakrie & Brothers menggambarkan cita-cita pendirinya yang selalu memiliki cita-cita setinggi langit, digambarkan dengan awan-awan biru, tetapi juga memiliki pijakan tindakan yang membumi, digambarkan dengan dua garis coklat.

Saya mulai bekerja di salah satu perusahaan grup Bakrie sejak 2006, tetapi baru mulai aktif berinvestasi di Bakrie sejak tahun ini 2008. Fakta bahwa grup Bakrie menguasai hampir 50% kapitalisasi pasar di Bursa saham Indonesia menarik minat setiap Investor di Bursa Saham, terlebih ada sebuah ungkapan yang berlaku di seluruh dunia 'Too Big To Fail', artinya dengan kapitalisasi sebesar itu, maka sustainability Bakrie sedikit banyak tidak bermasalah.

Investasi pertama dilakukan di BUMI Resources, perusahaan tambang grup Bakrie. BUMI sendiri merupakan bintang di Bursa sejak 2005/2006. Saham BUMI terus melejit setelah berhasil mengakuisisi KPC dan Arutmin (dua tambang Batubara besar di Indonesia). Transaksi yang seperti cacing menelan Gajah ini langsung mendongkrak saham BUMI, ditambah dengan meroketnya harga Batubara sampai ratusan persen ikut mengerek saham BUMI. Pada September yang lalu, BUMI berhasil menggeser posisi Telkom sebagai pemegang kapitalisasi pasar terbesar di BEI. Akhir tahun ini, BUMI harga sahamnya merosot sangat tajam karena Gelembung harga komoditas telah pecah dan permasalahan kepemilikan saham di BUMI oleh Bakrie.

Investasi kedua dilakukan di perusahaan telekomunikasi grup Bakrie, BTEL. BTEL mulai melantai di bursa sejak 2006 dengan kondisi keuangan perusahaan yang masih merugi. Namun, di akhir 2006 BTEL mampu membukukan keuntungan bersih pertamanya dan hal ini membuat sahamnya di Bursa ikut terdongkrak. Tetapi, pada akhir tahun ini saham BTEL merosot di harga 50an rupiah, jauh lebih rendah dari harga IPO di 100an rupiah. Penyebab utama penurunan adalah krisis global dan sentimen negatif di pemilik BTEL yaitu Bakrie & Brothers.

Investasi terakhir di grup Bakrie dilakukan induk usaha Bakrie, yaitu Bakrie & Brothers, BNBR. Pada awal tahun 2008 BNBR menggebrak pasar saham dengan merilis berita akan melakukan Right Issue besar-besaran. Publik bertanya-tanya untuk apa RI sebesar itu?, ternyata jawabannya adalah untuk mengakuisisi saham mayoritas di semua perusahaan grup Bakrie seperti BUMI, Bakrieland dan Bakrie Sumatera Plantation. Aksi besar-besaran ini akan menjadikan BNBR sebuah perusahaan investasi besar yang akan bersaing dengan BMTR dan ASII. Bahkan, tidak mungkin akan menjadi perusahaan Investasi besar berskala dunia seperti Berkshire (he he he, hiperbolistis ya :D).

Pada akhirnya, moral of the story adalah Investasi saya saat ini terhenti di BNBR. Hutang BNBR yang besar kepada JPMorgan dan Odickson, gagal bayar ke beberapa sekuritas dan terakhir strategic partnership dengan Northstar di BUMI adalah sebagian dari kejutan-kejutan yang saya terima dari BNBR di tahun 2008.

2 comments:

Anonymous said...

denger-denger BTEL mau akuisisi mobile-8 ya?
kalo bener, wah BTEL makin maju aja nih, heheheh...

Zidni said...

@hapiz
Kayaknya sih gitu,
tapi masalahnya, dana yg dipakai buat akuisisi darimana.
Jangan-jangan dari gadai saham kemarin :)